Bolehkah memakai pakaian kemasyhuran?

Pertanyaan:
Bolehkah boleh memakai pakaian kemasyhuran?

Dijawab oleh al-Ustadz Afifudin -hafidzohulloh-:
Terkait dengan libassu suhro perkara yang dilarang ya ikhwan. Nash haditsnya dihasankan sebagian ulama melarang menggunakan pakaian suhroh.
Definisinya ialah: pakaian yang dipakai dengan tujuan al-isytihar, tujuan supaya dia masyhur di tengah-tengah masyarakatnya.
Tidak memandang apakah pakaiannya sangat mahal atau pakaiannya sangat jelek. Niatan intinya ialah syuhroh, betul-betul untuk mencari kemashuran. Thoyib.
Pakaiannya sesuai dengan masyarakat ataukah berbeda dengan masyarakat. Barokallohu fiikum.

Masyarakat umum menggunakan pakaian batik, dia pakai pakaian batik sesuai dengan masyarakatnya, tapi batiknya tidak sembarang batik. Apa batik yang berkelas? Dari mana dibuat? Batik sutra, berkelas. Sutra malah ga boleh laki-laki pakai sutra.
Yang berkelas gitu ya. Dia pakai batik. Niatan dia untuk masyhur.
“Wah, batike rek” (Wah, batiknya Mas)
“iyo.. Ga koyo njenengan iki, batikke 15ewuan..” (Iya.. Tidak seperti punya kamu, batik cuma 15ribuan..)
“Kulo niki batikke nggih reginipun nggih awis, larang tenan iki. Sak juta setengah niki Pak”. (Saya ini batiknya ya harganya mahal, mahal beneran ini. Satu juta setengah ini Pak)
Ada yang mengatakan: “Batik kulo niki sami kalih kendaraan njenengan niku”. (Batik saya ini sama dengan harga kendaraan situ)
Satu batik sama dengan sepeda motor satu.

Niatannya isytihar.. Haram.. Walaupun sama dengan masyarakat.
Mau pakai baju yang blus kelihatan kumal nggak pernah disetrika dan segala macamnya. Tujuannya supaya nampak zuhudnya, dikenal sebagai ahli ibadah, orang yang ndak suka dengan dunia dan segala macamnya.
Dengan tujuan semacam itu haram.. Haram.. Dikatakan namanya syuhroh.
Yang diangkat adalah niatan dan maksudnya. Bukan mahal murah pakaiannya, bukanlah sama atau beda dengan masyarakat. Baarokallohu fiikum. Bisa dipahami ya..?!

Cuma ketika saya membawakan contoh di majalah saya berusaha membela pakaian sunnah, pakaian sunnah yang dianggap masyarakat sebagai pakaian syuhroh.
Saya balik, saya balik akhirnya. Ketika ada seseorang yang memakai pakaian sunnah, menggunakan pakaian jubah, menggunakan hijab yang syar’i, dalam rangka untuk menghidupkan sunnah, mengamalkan sunnah, Barokallohu fiikum itu bukan pakaian syuhroh.
Dikatakan niatan tadi niatan baik, niatan yang bagus. Dalam rangka untuk ihya’ussunnah, ittiba’ussunnah, bukan namanya syuhroh.
Dipuji dengan tindakan semacam itu, dimuliakan, dapat pahala insya Allohu Ta’ala. Apalagi di tengah masyarakat yang asing dalam hal seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *