Bagaimana cara menghadapi anak kita yang sulit diatur, apa harus dirukyah?

Pertanyaan:
Bagaimana cara menghadapi anak kita yang sulit diatur, apa harus dirukyah?

Dijawab oleh al-Ustadz Luqman Ba’abduh -hafidzohulloh-:
Boleh na’am. Dirukyah Sebagaimana rosululloh z merukyah al-hasan wal husain.
Al-Hasan wal Husain dirukyah oleh nabi. Dirukyah, didoakan, dimintakan perlindungan kepada Alloh. Boleh dirukyah, ini yang pertama.

Begitu mau masuk maghrib dirukyah, kalau dia sudah dewasa panggil “sini anakku”, dipegang, dipeluk dia, didoakan:

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat.”
Dan berkata, “Seperti inilah bapakku Ibrahim meminta perlindungan untuk Ismail dan Ishaq.” (Riwayat Bukhari no. 3371, Abu Daud no. 4737, Ibnu Majah no. 3525, Tirmidzi no. 2060, diriwayatkan dari Musnad Imam Ahmad 4/20 no. 2112)

Na’am.
Kemudian di nafath (ditiup, red). “Wah ada apa sih abi ini?” “Ndak apa-apa” na’am.
Besok dirukyah lagi. Waktu dia tidur pegang keningnya, pegang dadanya, bacakan al-fatihah, bacakan al-muawidatain (al-ikhlas, al-falaq, an-nas), atau ayat kursi, bacakan.
Semoga syaiton jauh dari dia, dilindungi oleh Alloh a.

Yang kedua, kita menempuh cara-cara yang hikmah dalam menghadapi anak-anak kita. Nggak mau diatur.. Yaa karena kita terlalu banyak aturan. Hal-hal yang sebenarnya mubah, kita berlebihan. Kecuali perkara yang jelas-jelas mengandung kemungkaran, itu dilarang, itupun dengan cara yang hikmah.
Sulit diatur.. Lha wong kamu sebagai orang tuanya membelikan HP blackberry. Ya sudah.. Pergaulan dia luas sebagaimana luasnya bumi ini. Na’am.
Ndak Ustadz, soalnya dia kasia Ustadz, minta HP. Lha ya kamu sebagai ayah kokoh, yang kuat, dengan penuh hikmah. “Jangan anakku, jangan pakai HP ini, ayah sayang sama kamu”, dinasehati.

Si anak punya hujah, “Abi sendiri pakai blackberry”. Nahh.. kan.. “Abi sendiri HP-nya yang sudah.. (geser-geser layar dengan jari)”.
Berarti tidak ada teladan, tidak ada contoh. Barokallohu fiikum. Faaqidu syai ila yu’thii, “seseorang yang tidak punya sesuatu mana mungkin ia memberikan sesuatu itu kepada orang”. Ga mungkin kan?
Lha antum mengeluh “anak saya sulit diatur Tadz”. Lha bagaimana mau diatur. Antum izinkan dia bergaul dengan beragam manusia di muka bumi, tidak hanya dengan si ahmad dan si zaid, bahkan bergaul dengan si joni, si michael, si ini. Na’am.
Macam-macam. Ya pantas anak antum tidak mau diatur. Sehingga yang berikutnya apa saya katakan, keteladanan.

Keteladanan dari ayah dan ibu, antumlah teladan pertama pada pintu gerbang, pertama antum. Sebagai ayah dan ibu. Na’am.
“Lha apa harus dijual semua Ustadz HP-HP-nya?”, “Jual..!”
Beli HP yang kalau hilang antum pun ga mau nyari. Atau HP yang suatu saat ketika antum digonggongi oleh anjing bisa buat lempar anjing disaat tidak ada batu. Toh harganya cuma dua ratus ribu. Itupun sering hang. Sudah lemparkan saja.
Daripada antum beli yang android, yang blackberry, pikir-pikir 2juta 1juta setengah buat lempar anjing, bahaya. Nah gitu.. Keteladanan dari ayah dan ibu.

Bagaimana anak mau diatur, ayah duduk dikursi depan main HP, facebook, ibu di ruang tengah juga main facebook. Gimana anak mau diatur..
Ayah tidak rajin sholat berjama’ah, bagaimana anak juga mau rajin sholat? Si ayah dan si ibu jarang memntingkan ilmu atau hadir di majlis ta’lim. Bagaimana kita ingin anak kita belajar din. Na’am.
Maka yang saya katakan keteladanan.

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap yang lahir itu lahir di atas fitroh, senang kepada khoir, senang kepada tauhid, senang kepada kebaikan, senang kepada ibadah, maka kepada kedua orang tuanyalah yang merusak dia, yang menjadikan dia seperti yahudi, kalau ga aqidahnya ya akhlaqnya, atau seperti nasrani atau seperti majusi”. (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir, red)

Ini yang saya katakan keteladanan dulu.

Kemudian itu yang tadi ana katakan cara-cara yang baik ketika anak itu salah, jangan kemudian ketia dia sudah terposisikan sebagai posisi tertuduh, terdakwa, tinggal siapa jaksa penuntut umumnya, akhirnya si anak siap-siap cari pengacara untuk dia berdusta, memutar balikkan data. Jangan, itu sudah salah langkah dari awal sudah salah. Tau anaknya tadi mengambil uang di rumah. Jangan kemudian, “Kamu mengambil uang ya?”, jangan..
“Ndak kok Yah..”, “Yang benar?” “Soalnya ayah tadi gini…!”
Dia sudah dijatuhkan mentalnya. Nasehatin dia dengan baik, ingatkan dengan jannah, dengan annaar, akhirat. Na’am. Barokallohu fiikum. Dan beberapa cara metode lainnya yang bisa dipelajari dalam al-Qur’an wa Sunnah dan bimbingan salaf -rohimahumulloh-. Na’am.
Jadi sekali lagi itu tadi, keteladanan. Na’am. Allohul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *