Kisah anak khalifah dalam menuntut ilmu

Oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed -hafidzohulloh-

Dikisahkan oleh al-Ajurry dalam Ghurroba’ minal Mukminiin, Seorang yang kerja nukang cuma hari sabtu saja dan dapat bayaran 7 danik. 1 danik dia bisa pakai untuk makan sehari. Maka sisanya dia belajar di ulama sampai habis 7 danik ini kemudian hari ke tujuhnya hari sabtu dia duduk lagi atau dia kerja lagi di tempat tadi, kerja harian.
Dapat lagi 7 danik lagi, balik lagi dia ke sana yang ternyata anaknya kholifah, anaknya kholifah.

Ikhwanifiddiin ‘azakumulloh, ini bukti betapa pentingnya ilmu. Mau belajar ke ulama dikasih sebagai bekal permata yang besar. Dia simpan, dia simpan ga dipakai, dia kerja.
Dan ini riwayat diriwayatkan oleh orang yang memakai dia sebagai pekerja. Yakni dia menyatakan suatu hari saya datang ke pasar kemudian saya mencari tukang-tukang untuk kerja harian. Dan biasanya di pasar orang-orang siap untuk kerja seharian.

Pemberi kerja: “Kamu berapa sehari?”
Pekerja: “saya sekitar..”

Tawar menawar. Nah anak muda ini kelihatan lain. Karena tholibul ‘ilm tentunya bentuknya lain tidak seperti bentuknya tukang, kan begitu..

Pemberi kerja: “Kamu kerja juga?”
Tholibul ‘ilm: “Iya..”
Pemberi kerja: “Kamu minta bayaran berapa?”
Tholibul ‘ilm: “Saya tidak minta lebih dari 7 danik”
Pemberi kerja: “Cuma 7 danik?”
Tholibul ‘ilm: “Iya..”
Pemberi kerja: “Kenapa begitu?”
Tholibul ‘ilm: “Karena saya minta syarat/tapi minta syarat bahwa saya dibebaskan untuk sholat berjama’ah setiap waktu sholat”

Ya karena kebetulan orang ini adalah orang yang sholeh juga, cocok dia. Ini berarti tukang yang baik. (kemudian) Kerja..
Ternyata kerjanya rajin maka jadi langganan. Tapi setiap hari tidak ketemu dia, sampai hari berikutnya hari sabtu yang berikutnya baru ketemu lagi.

Pemberi kerja: “Kenapa kamu nggak ada?”
Tholibul ‘ilm: “Saya ta’lim, ngaji, belajar sama syaikh, dengan ulama.”

Jadi 7 danik itu dipakai setiap hari untuk hidup 6 hari, ketika habis kerja lagi nukang kemudian untuk hidup 6 hari lagi. Yang penting bisa ngaji.
Akhirnya setiap hari sabtu orang ini mencari.

Pemberi kerja: “Mana anak itu?”

Panggil, kerja di rumahnya. Hari sabtu panggil lagi. Sampai ketika suatu hari orang itu nggak ada. Dicari-cari, tanya.. tanya.. tanya.. Ternyata didapati dalam keadaan sedang sakit.
Kemudian dia berpesan karena kelihatannya sakitnya parah. Dia berwasiat bahwa “Kalau saya mati berikan ini pada kholifah”. Kemudian meninggal.

Ketika iring-iringan kholifah lewat maka dia memanggilnya sambil menunjukkan barangnya.
Maka kholifah melihat barang tersebut langsung berhenti.

Kholifah: “Dari mana kamu dapat ini?”

Diceritakan kejadian seluruhnya, maka kholifah tadi menangis.

Pemberi kerja: “Kenapa kau menagis?”

Karena orang ini tidak tahu siapa dia.
Maka dijawab oleh kholifah: “Itu adalah anakku.”

Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu. Kaum salaf itu sampai bekerja itu sekedar untuk dia bisa hidup, selebihnya belajar mencari ilmu.


DOWNLOAD FILE AUDIO

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *