Bagaimana dengan kebiasaan ikhwan yg memakai sarung balapan?

Pertanyaan:
Kebiasaan ikhwan memakai sarung lebih tinggi dari sirwalnya alias balapan. Menurut kebiasaan orang jawa berpakaian semacam ini dinilai kurang pantas menurut adat. Bagaimana hal ini?

Dijawab oleh al-Ustadz Afifudin -hafidzohulloh-:
Ya jangan balapan. Apalagi hal tersebut membikin orang lari dari dakwah, membuat orang antipati dengan dakwah dikarenakan pakaian yang semacam itu dan segala macamnya.
Na’am, Jagan balapan. Dikarenakan ketika kita menggunakan pakaian yang ketika sarowil kita ada di dalam ketutupan dengan sarung kita atau dengan jubah kita itu lebih manis, lebih bagus, lebih modis, dan apa namanya.. Adat menerima itu ga ada pelanggaran syar’i.
Perkara yang sifatnya mubah, tidak ada pelanggaran syariat, tidak ada madhorot yang tercapai, atau ga ada maslahat yang terluput, tidak ada masalah.

Dan yang yang ditanbih, sebgaian ikhwan ada yang tidak perhatian dengan pakaiannya, padahal itu menjadi sebab, terkadang menjadi sebab orang lari dari dakwah.
“Seneng sih, ceramahnya seneng saya pak. Mantab.. Nggih mangke… (ya nanti..).”
“Saya lihat orang-orangnya gimana pak ya.. Pakaiannya kok jadi kayak gitu semuannya, balapannya kok banyak banget.”
“Lapisnya kok banyak. Ada sarowilnya, ada sarunya, ada gamisnya, ada jaketnya, lapis empat..”

Sudah seperti itu kemudian imamahnya diikat kayak harley davidson kayak gitu. Laahaula walaquwwata illa billaah..
Mubah sih mubah. Tapi ketika apa namanya.. dianggap kurang adat, kurang bagus secara adat, tinggalkan..! Diganti sesuai dengan perkara adat tapi ga melanggar syariat.
Diganti yang tadi itu, supaya tidak balapan. Yang nampak di luar agar jubahnya atau sarungnya. Baarokallohu fiikum. Itu kan ga menyalahi syariat.
Amalkan.. Amalkan.. Apalagi dengan semacam itu ada unsur ta’liful qulub, melembutkan hati masyarakat.

 

DOWNLOAD FILE AUDIO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *