Lebih utama mana mencari ilmu dengan mencari maisyah alias dagang?

Pertanyaan:
Lebih utama mana mencari ilmu dengan mencari maisyah alias dagang?

Dijawab oleh al-Ustadz as-Sewed -hafidzohulloh-:
Lebih utama mana ya kira-kira? Ajaib ya.. Pertanyaannya sunggu menakjubkan.
Tidak bisa dibandingkan ilmu itu dengan dunia apa pun. Tidak bisa dibandingkan dengan dunia seluruh isinya ya.. Itu ilmu.. Na’am. Tentunya kamu harus bisa bagi waktu kalau kamu memang berkewajiban mencari maisyah untuk keluargamu, ilmu jangan ditinggalkan ya.. Kalau tanya mana yang lebih mulia ya jangan ditanyakan itu sudah terlalu jelas, ilmu lebih utama. Tapi jelas di dalam perintah-perintah Alloh ada kewajiban memberikan maisyah kepada keluarga ya. Maka jangan kamu mempertentangkan antara keduanya. Ini wajib.. Ini wajib.. Jadi kan kita harus..?? Itu kalau bertentangan ya. Nyatanya tidak.

Kamu bisa berhenti dagang waktu ta’lim, kamu bisa meninggalkan kejaan ketika ada acara pengajian misalnya, dan kamu bisa nyempatkan waktu untuk mendengarkan kaset, membaca buku, sehingga jangan anggap bahwa dua perkara itu bertentangan. Sehingga harus dipilih lebih mulia mana ustadz, nyari ilmu atau maisyah? Itu kalau bertentangan. Dua-duanya harus dan yang lebih utama.. lebih utama.. lebih utama.. adalah ilmu ya.. ilmu..!

Sehingga ada seorang dari kalangan salaf yang dikisahkan oleh al-Ajury dalam Ghuroba’ minal mu’minin ya, seorang yang kerja nukang cuma hari sabtu saja. Dan dapat bayaran 7 danik. 1 danik dia bisa pakai untuk makan 1 hari ya. Maka sisanya dia belajar di ulama’ sampai habis 7 danik ini dan kemudian hari ke-tujuh-nya hari sabtu ia duduk lagi ya, atau dia kerja lagi di tempat tadi. Kerja harian ya. Dapat lagi 7 danik lagi balik lagi dia ke sana. Yang ternyata anaknya kholifah, anaknya kholifah.

Ikhwanifiddiin ‘azakumullooh ini bukti betapa pentingnya ilmu. Mau belajar ke ulama dikasih sebagai bekal permata yang besar dia simpan, dia simpan ga dipakai, dia kerja, dan ini riwayat diriwayatkan oleh orang yang memakai dia sebagai pekerja ya. Yakni dia menyatakan suatu hari saya datang ke pasar kemudian saya mencari tukang-tukang untuk kerja harian, dan biasanya di pasar orang-orang siap untuk kerja seharian. Kamu berapa sehari, saya sekitar.. tawar menawar. Nah anak muda ini kelihatan lain karena tholibul ‘ilm tentunya bentuknya lain tidak seperti bentuknya tukang, kan begitu.

(Pemberi kerja): Kamu kerja juga?
(Pekerja): Iya.
(Pemberi kerja): Kamu minta bayar berapa?
(Pekerja): Saya minta tidak lebih dari 7 danik.
(Pemberi kerja): Cuma 7 danik?
(Pekerja): Iya.
(Pemberi kerja): Kenapa begitu?
(Pekerja): Karena saya meminta syarat. Tapi minta syarat bahwa saya dibebaskan untuk sholat jamaah setiap waktu sholat.
(Pemberi kerja): Ya.
Karena kebetulan orang ini orang yang sholeh juga. Ya cocok dia. Ini berarti tukang yang baik. Kerja, ternyata kerjanya rajin maka jadi langganan. Tapi setiap hari tidak ketemu dia. Sampai hari berikutnya hari sabtu yang berikutnya baru ketemu lagi.

(Pemberi kerja): Kenapa kamu ga ada?
(Pekerja): Saya ta’lim, ngaji belajar sama syaikh, dengan ulama’.

Jadi 7 danik itu dipakai setiap hari untuk hidup 6 hari ketika habis kerja lagi nukang kemudian untuk hidup lagi 6 hari ya, yang penting bisa ngaji. Akhirnya setiap hari sabtu orang ini mencari mana anak muda itu, panggil, kerja di rumahnya. Hari sabtu panggil lagi. Sampai ketika suatu hari orang itu ga ada. Dicari-cati tanya.. tanya.. tanya.. Ternyata didapati dalam keadaan sedang sakit. Kemudian dia berpesan karena kelihatan sakitnya parah dia berwasiat bahwa ini berikan kalau saya mati berikan ini pada kholifah. Kemudian meninggal.
Ketika iring-iringan kholifah lewat maka dia memanggilnya sambil menunjukkan barangnya. Maka kholifah melihat barang tersebut langsung berhenti. Dari mana kamu dapat ini? Dia ceritakan kejadian seluruhnya, maka kholifah tadi menangis.
(Pemberi kerja): Kenapa kau menangis? Karena orang ini tidak tahu siapa dia.
Maka dijawab oleh kholifah itu adalah anakku.

Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu. Kaum salaf itu sampai bekerja itu sekedar untuk dia bisa hidup ya. Selebihnya belajar mencari ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *